Posting Pertama: Mengapa Blog Ini Ada?
Well, ini sedikit kronologisnya.
Sekitar sebulanan lalu saya "disuruh" (seharusnya tanpa tanda kutip;-)) kantor ikutan training Business Report Writing. Tentu saja, pikiran pertama adalah: ya ampun, males banget seeh. "Perasaan", saya sudah ikut training sejenis itu sekian banyak kali (di tempat-tempat kerja sebelumnya - walau tentu saja – yang dipelajari sudah lupa;-)). Apalagi belakangan saya tahu kalau training itu diselenggarakan dua kali di dua hari Sabtu, masing-masing seharian penuh lagi.
Komplit dah. Padahal, bukankah ungkapan "Thank God it's Friday" itu saja sudah menunjukkan kalau hari-hari kerja sudah cukup melelahkan? Enough is enough. If I work for another day, I'd die;-).
(Just for the record, betul aja saya muntah-muntah pas Sabtu sorenya; pengennya sih bilang muntah karena sebel, tapi nggak, saya cuma masuk angin aja koq;-)).
Tapi keingintahuan saya mengalahkan yang lain. Ada apa sih di training seperti itu?
Tapi 'kan materi training itu tidak relevan buat dijelaskan di sini;-). Yang saya akan ceritakan adalah justru saat saya mengikuti pre-tes (God, haree geenee masih ikut tes;-)) untuk training itu, di mana salah satu tugasnya adalah menulis esai singkat dengan topik: "Why do you think writing is important for you?".
Nah, di luar kegeregetan dan kegatelan saya untuk bilang bahwa "Writing is actually NOT important for me", saya memaksakan diri untuk benar-benar berpikir, apa sih gunanya nulis?
I came up with two answers (tidak sama persis dengan yang saya tulis pada saat tes itu, tapi beginilah kira-kira):
Pertama, menulis - berbeda dengan cara komunikasi yang lain seperti berbicara – memungkinkan kita untuk “mengabadikan” pikiran kita. Apa yang kita tulis hari ini punya kemungkinan untuk dibaca besok, atau bulan depan, tahun depan, satu dasawarsa atau bahkan satu abad ke depan: dan pikiran kita akan tetap terkomunikasikan secara konsisten. Ditambah potensi jangkauan kuantitas mau pun geografis: dengan bantuan medium seperti Internet, tulisan kita punya potensi dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia. Artinya, menulis punya leverage alias daya ungkit ke “dunia luar” yang sangat besar.
Kedua, menulis memaksa kita untuk berkomunikasi intensif dengan pikiran kita sendiri. Menulis – kita sadari atau tidak - melatih kita untuk menjadi “pengamat” atas pikiran kita sendiri. Sebagai pengamat pikiran, kita bisa menilai apakah yang kita pikirkan itu logis, terstruktur dengan baik, emosinya tersampaikan, dll, sehingga kita berusaha meningkatkan kualitas pikiran kita sebelum pikiran itu dinyatakan dalam serangkaian kalimat. Singkatnya, menulis membuat kita menjadi pemikir yang lebih baik. Kata orang, thinking leads to actions, and actions lead to results. Jadi dengan menjadi pemikir yang baik, kita punya peluang lebih besar menjadi orang yang bertindak dengan baik, dan pada akhirnya mencapai hasil yang lebih baik. Artinya, menulis punya leverage alias daya ungkit ke “dunia dalam” yang sangat besar.
Sehingga, kesimpulan yang saya tulis dalam tes itu adalah:
“Writing is NOT (just) important for me. Writing is VERY important.” (gedubrak!;-))
Nah, itulah dua alasan yang “bisa” menjadi dasar kenapa saya membuat blog ini.
Kenapa “bisa”?
Karena alasan sebenarnya BUKAN itu. Hehehe.
Dengan blog ini, saya ingin menjembatani pikiran saya dan pikiran banyak orang lain mengenai berbagai permasalahan yang kita hadapi sebagai individu mau pun sebagai (kelompok-kelompok) masyarakat.
(Gile, alasan yang “menjijikkan” bukan? It’s such a big, hairy, audacious goal. Well hey, so was JFK’s plan to land a man on the moon.)
Permasalahan yang akan saya bahas di blog ini saya batasi hanya tiga, yaitu tentang belajar, bermain, dan bekerja. Ya, betul, cuma tiga. Lagian, emangnya ada permasalahan lain? Kalau toh Anda “merasa” punya ide permasalahan lain di luar ketiga hal di atas, sebutlah masalah X, saya ‘kan bisa menulisnya sebagai “Belajar Mengatasi Masalah X”, atau “Bermain-main dengan Masalah X”, atau “Bekerja Mengatasi Masalah X”.
SWGTL: So What Gitu Loh?
Begitulah;-).

2 Comments:
Sepengetahuan saya, mimpi itu alam bawah sadar, kalo membaca penjelasan seperti itu adalah diatas sadar ? bagaimana hal ini dapat dijelaskan ?
Betul, mimpi itu alam bawah sadar, dan biasanya tidak bisa diakses. Nah, mimpi sadar itu adalah suatu gerbang yang membuat kita mampu mengakses alam bawah sadar itu.
Saya ingat satu cerita. Seorang dosen tiap hari pulang pergi dari rumah ke tempat kerjanya di satu perguruan tinggi. Dia tidak pernah secara sadar menghitung berapa jumlah tiang listrik yang ia lewati selama perjalanan, namun ketika ia dihipnotis, ia bisa menjawab dengan tepat jumlah itu.
Tanpa ia sadari, alam bawah sadarnya selama ini ternyata bekerja menghitung dan menghapal sesuatu yang ia sendiri tidak tahu.
Post a Comment
<< Home